HMPJ Gelar Diskusi Publik, Polemik Perencanaan Pembangunan Kantor Vertical Di Wilayah WIO, Wamena Papua Pegunungan.


Himpunan Mahasiswa Pelajar Jayawijaya HMPJ Gelar Diskusi Publik. Pelemik Perencanaan Pembangunan Kantor Vertikal Di Wamena Papua Pegunungan, Wilayah WIO. (Doc: Pribadi)

Jayapura, Wenehanowene.com - Himpunan Mahasiswa Pelajar Jayawijaya HMPJ Mengelar Diskusi Publik dengan menentang atas Perencanaan Pembangunan Kantor Vertikal di Wilayah Wouma, Wamena Kota dan Wesaput WIO dan Wilayah lainya Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, Dalam Edaran penyampaian Gubernur dan kepala pemerintahan lainya dalam bebera hari yang lalu. Di Jayapura pada, Sabtu, (18/04/2026)

Menjadi perhatian besar di kalangan masyarakat dan publik, memicu antara masyarakat pro dan kontra atas kehadiran pembangunan kantor vertikal lainya di Wamena Papua Pegunungan. Melihat dengan itu pemuda dan mahasiswa desak karean membuat konflik antar warga setempat.

Kilitus Wetipo, Selaku Pemudah Wouma, Ia menyampaikan  Perencanaan pembangunan kantor vertical lainya bukan hal baru tetapi terjadi dari sejak Tahun 2022 sampai saat ini. Awalnya kantor gubernur dan hari ini dengan adanya kantor polda dan kantor vertical lainya, disampaikan lansung oleh Bapak Gubernur Provinsi Papua Pegunungan, ungkapnya.

Sebuah pesan yang lahir dari kekhawatiran mendalam. Ini bukan sekadar penolakan biasa, ini adalah jeritan hati tentang tanah yang telah menghidupi ribuan jiwa. Bagi Klitus dan masyarakat Wouma, lahan seluas 42 hektar yang direncanakan untuk pembangunan kantor pemerintahan (Polda dan kantor vertikal lainnya) bukanlah lahan kosong. Lahan itu adalah tanah produktif, tempat di mana tangan-tangan terampil dari tujuh kabupaten bergantung hidup disana.

"Tanah itu masih diolah, bukan tanah kosong. Di sana masyarakat berkebun, beternak, dan dari hasil itulah anak-anak kami bisa bersekolah," ujar Klitus dengan nada yang sarat akan harapan.

Lebih dari sekadar ekonomi, Klitus mengingatkan bahwa di setiap jengkal tanah tersebut tersimpan jejak sejarah dan kesakralan. Ada situs budaya dan tempat sakral yang terancam hilang jika pembangunan tetap dipaksakan di sana. Ia memohon kepada pemerintah, DPR, dan MRP untuk duduk bersama, memfasilitasi dialog antara pihak yang pro dan kontra guna mencari solusi yang bijak, tegasnya

Bagi Klitus, pembangunan memang penting, tapi jangan sampai ia mencabut akar kehidupan dan identitas masyarakat yang sudah ada sejak lama di wilayah setempat dan pada umumnya wamena, tuturnya. 

Gerry Matuan, Selaku Bidang Hukum dan HAM, Ia menegaskan dalam kesempatan yang sama.  Kami melihat dengan adanya sebuah informasih lagi trend dalamn hal penempatan kantor vertical lainya di wamena. Ini merupakan salah satu masalah serius yang masuk sehingan kami sebagai mahasiswa ambil langkah dan satu pendapat untuk lakukan diskusi hari ini dengan undang beberapa narasumber lainya sebagai pemudah di wilayah tersebut, ujarnya

Lebih lanjut Gerry, Melihat dengan persoalan ini menjadi pro dan kontra masyarakat setempat sehingan menjadi polemic yang sangat berbahaya di antara kalangan masyarakat. Kami sebaga mahasiswa satukan pikiran untuk melakukan mediasi dan lainya agar tidak terjadi merugikan masyarakat setempat, kata dia

Ia juga menambahkan, Di wilayah tersebut WIO. Wouma, Wamena Kota, Wesaput, Welesi dan Wilayah  lainya itu merupakan tempat-tempat sentral dimana tempat mata pencaharian masyarakat dan kegiatan lainya. Dan juga disana tingal bukan masyarakat WIO sendiri tetapi bebera warga dari kabupan tetaangah menetap disana sehingan dengan polemic ini tentunya bicara baik agar tidak merugikan masyarakat yang ada di beberapa wilayah penempatan kantor vertical itu, rilisnya.

“Dengan besar harapanya. Ia menekankan kepada pemerintah dapat melihat dengan baik dan bijak agar dalan Penempatan ini tidak sembarangan tempat mereka lakukan dan perlu ada dialog bersama dengan masyarakat adat setempat tidak hanya sewenang-wenang tidak dapat melibatkan masyarakat lakukan dengan semaunya pemerinta provinsi papua pegunungan.” Tegas Gerry dalam jumpa pers.

Alexander Hisage, Ketua Himpunan Mahasiswa Pelajar Jayawijaya (HMPJ) Kota Studi Jayapura, ia membawa pesan penting dari jantung di Aula Asrama Putri Padang Bulan. Kota Jayapura, Mengatakan Hari ini bukan sekadar hari biasa. Tetapi dengan hadirnya peserta yang  Lebih dari 100 mahasiswa dan pelajar berkumpul, menyatukan pikiran dalam sebuah forum diskusi publik yang hangat itu. Bagi Alexander, ini bukan sekadar kumpul kumpul, melainkan sebuah "Ruang Ilmiah" sebuah kawah candradimuka di mana mahasiswa diasah untuk lebih jeli melihat realitas yang terjadi di Kabupaten Jayawijaya. Karea Mahasiswa adalah agen kontrol pembangunan dan agen perubahan bagi daerah kita sendiri.”.

Pernyataan Alexander bergema sebagai pengingat akan peran vital kaum muda. Ia mengajak seluruh rekan-rekannya untuk tidak tinggal diam dan terus terlibat aktif dalam mengawal setiap kebijakan pemerintah yang dilakukan sekiranya dapat merugikan bagi masyarakat adat setempat dan generasih yang mendatang. Diskusi ini menjadi bukti bahwa di tengah hiruk-pikuk kota, masih ada nyala api kepedulian yang dikobarkan oleh para mahasiswa demi masa depan Jayawijaya yang lebih baik, tutupnya.(*)


Reporter: Admin

Post a Comment

Silakan DM atau Kunjungi di akun website.

Lebih baru Lebih lama