Metode Berpikir dan Pentingnya Bahasa Lokal Bagi Kaum Milenial

(Doc Pribadi: Marius Francisco Nakuwo) 

Oleh: Marius Francisco Nakuwo

Metode berpikir orang asli Papua 
Metode berpikir orang asli Papua adalah kekhasan asali yang memikat pada nalar orang Papua dari zaman-ke zaman hingga saat ini dan masa yang akan datang. Metode berpikir orang asli Papua berakar pada relasi harmonis antara manusia, leluhur, alam, sesama, diri sendiri dan Pencipta. Pola pikir ini cenderung komunal, kontekstual, substansial dan esensial, meragukan pada pembangunan yang merusak relasi harmoni antara manusia, alam, tanah dan masa depan kehidupan mereka.

Motode berpikir ini adalah jalan berpikir untuk menjaga keselarasan hidup di dalam lima relasi yang ada, karena orang Papua menemukan kebahagian hanya dengan relasi harmoni untuk memelihara keselarasan hidup. Keselarasan hidup terpelihara melalui relasi harmoni yang terpelihara dan dihidupi secara berkelanjutan. Dengan demikian orang Papua hidup dalam damai, adil, jujur, saling melindungi, menjanjikan keselamatan, mempunyai harapan akan hidup dan menuai kebahagian kini dan di sini.

OAP: Pemikiran khas Papua yang Menyelamatkan:
Orang Asli Papua (OAP) harus mengunakan jalan berpikirnya sendiri dalam upaya bersama menyelamatkan manusia, budaya dan alam Papua. Dalam alam nalar ada dasar keutaman, prinsip, norma, hukum, aturan, nilai-nilai hidup, pedoaman dan kebijaksanaan asali Melanesia, yaitu: “menjaga, memelihara dan menghidupi relasi harmoni dan keselarasaan hidup antara manusia, alam, leluhur dan Pencipta”. Semua hal ini telah orang Papua hidupi di dalam budaya lokalnya. Sebagai satu bangsa besar, semua telah bertumbuh di dalam peradaban, sejarah, tradisi dan budaya bangsa Melanesia.
Anak Papua harus berpikir tentang Papua dengan metode berpikir Papua.

Metode berpikir Papua adalah metode yang mengajarkan anak-anak Papua untuk memahami, menghargai budaya, tradisi dan menghidupinya untuk terus memelihara keharmonisan dan keselarasan hidup. Metode berpikir ini melibatkan pengajaran tentang peradaban dan sejarah Papua, bahasa daerah, dan cara hidup masyarakat Papua. Maka dalam upaya-upaya kita dalam perjuangan nasib bangsa Papua ke depan harus didasarkan pada pondasi cara berpikir sendiri, agar kita dapat memperkuat relasi harmonis dan keselarasan hidup yang ada. Dengan demikian, semua yang hidup di atas mama tanah Papua ini hidup dalam damai dan bahagia secara berkelanjutan. 

Hegemoni budaya dan keselamatan manusia, alam dan masa depan Papua 
Indonesia mempunyai suku bangsa yang unik dan hegemoni budaya yang fana. Setiap suku mempunyai prinsip hidup, metode pendidikan, sistim sosial, sejarah, budaya, tradisi, dan bahasa yang berbeda. Pendidikan tradisonal setiap suku tentu sangatlah berbeda, mulai membentuk manusia itu dari lingkungan hidup dan zona ekologis atau flora dan fauna yang ada di lingkungan tersebut. Mereka mempunyai cerita dan mitos, mite dan kebijaksanaan tersendiri.

Keberagaman hegemoni budaya ini peluang bagi anak Papua untuk selamatkan manusia, alam budaya dan masa depan Papua. Melalui pendidikan formal dan nonformal ilmu pengetahun dan teknologi menjadi instrumen yang membantu kita untuk berpikir lebih jernih dengan metode berpikir Papua. Anak-anak Papua memahami, menghargai, edukasi dan hidupi budaya, tradisi, dan lingkungan hidup, meningkatan jumlah penutur bahasa daerah, membiasakan bercerita dongen, cerpen, nasehat hidup, falsafa dan mantra, mitos dan sejarah, melakoni pesta rakyat dan ritual dan seni tradisional suku-suku asli Papua tanpa mengotori budaya bangsa lain. 

Semua keluarga mengutamakan mendidik anak-anak sejak usia dini. Untuk mengajar anak cucunya sudah bagi kerjanya yaitu anak perempuan diajarkan oleh kaum perempuan yang lebih tua sedangkan anak laki-laki di ajarkan oleh kaum laki-laki yang lebih dewasa/tua. Orang Papua harus mengajarakan tentang budaya dan adat istiadat yang baik dan benar kepada anak-anak. Budaya Papua dan bahasa daerah semakin hari semakin punah. Kita dapat meneyelamatkan manusia, alam dan budaya asali kita, hanya dengan mengajar anak-anak dan menghidupinya. Kita akan kembali menjadi bangsa yang besar, kuat dan mengenal indentitas bangsa dan kita tidak akan direndahkan oleh bangsa-bangsa lain di dunia. 

Kebudayaan dan Masa Depan Papua
Antropologi Papua adalah cabang dari antropologi yang memfokuskan studinya pada masyarakat Papua. Ini mencakup studi tentang budaya, sejarah, bahasa, dan masyarakat Papua. Metode berpikir Papua mengacu pada cara pandang dan pemahaman masyarakat Papua terhadap dunia di sekitar mereka. Ini bisa mencakup pemahaman mereka tentang alam, peran mereka dalam masyarakat, dan bagaimana mereka berinteraksi dengan orang lain. Metode berpikir ini penting untuk memahami dan menghargai keunikan dan keberagaman budaya Papua.

Pendekatan budaya tradisional dan modern yang tertutup bukanlah sebuah jawaban yang diharapkan masyarakat menuju Papua yang mandiri dan sejahtera. Perdekatan kuno seperti ini hanya akan menambah berbagai masalah sosial yang baru dalam peradaban hidup orang Papua di zaman modern. Sedih rasanya jika kita hanya beradu tentang siapa yang terbesar dan terbaik di Papua dan ketika sedang berkelahi orang memanfaatkan situasi ini untuk menguasai Papua dalam berbagai sektor pembangunan.

Keutamaan mendesakan perhatian penting masyarakat pribumi adalah kebudayaan. Kebudayaan Papua saat ini berada dalam masa transisi karena pengaruh budaya arus globalisasi dan pergerakan penduduk migrasi dari luar ke Papua dalam jumlah yang besar. Perlu menjadi catatan khusus bahwa yang selalu terjadi di seluruh dunia adalah terjadinnya pergeseran budaya atau nilai-nilai hidup masyarakat pribumi. Hal ini disebabkan karena jumlah penduduk pribumi atau orang asli Papua kurang dibandingkan pendatang. Kebudayaan Papua yang hanya merupakan kebudayaan yang dipinjam untuk memenuhi dan memperkaya kebutuhan kita (loan culture), tetapi lama kelamaan menjadi enculturation (enkulturasi) terhadap kebudayaan itu. Proses itu ternyata tidak semata-mata memperkaya kebudayaan kita, tetapi juga menghilangkan kebudayaan kita sendiri tanpa kita sadari.
Budaya sebagai keseluruhan bidang yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, nilai-nilai, moral, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Artinya bahwa kebudayan adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk dapat berperan, berfunggsi, dan berada dalam kehidupan masyarakat. Kebudayaan adalah suatu cara yang dapat diterima oleh masyarakat dan keberadaannya dalam masayarakat dapat berperan dengan baik. Warna-warna budaya yang bermacam-macam di Papua memberikan nuansa pluralisme yang sangat luar biasa. Ada gunung, ada pesisir , ada yospan, ada bakar batu, dan gaya hidup dari masing-masing suku sangat unik dan enak dinikmati.

Kebudayaan adalah cara mengetahui yang harus dimiliki seseorang untuk menjalani tugas -tugas kehidupan sehari-hari karena kebudayaan mencakup pengetahuan tentang musik, sastra, seni, meramu, dan sebagainya. Masyarakat Papua yang mendiami wilayah adat pengunungan tengah Papua tentunya mempunyai budaya yang unik dan berbeda dengan saudara-saudaranya di wilayah adat pesisir Papua. Kekayaan budaya yang bervariasi ini memberikan nuansa kehidupan sosial yang saling menerima. Dalam setiap budaya lokal tentunya di bekali dengan kemampuan bagaimana menerima keberagaman disekitar hidupnya. Masyarakat Papua harus mengedepankan nilai-nilai hidup yang telah dianugerahkan Tuhan sehingga keberadaanya dapat diterima oleh masyarakat luas. Kebudayaan adalah bagian dari kebiasaan hidup sehari-hari, sehingga kebiasaan kita yang positif marilah kita pertahankan.

Kebudayaan juga berbicara tentang perilaku sehingga masyarakat pribumi Papua harus mengembangkan relasi dan perilaku yang bertanggung jawab terhadap alam dan masyarakat sekitar. Banyak terjadi pergeseran budaya seperti budaya kerja orang Papua yang telah ada sejak nenek moyang hilang. “Sebagian orang Papua menjadi malas bekerja, berdiri di emperan toko, mabuk, dan tidur di jalan-jalan, makan pinang dan mengotori dinding atau jalan tanpa rasa bertanggung jawab, suka memalang jalan dan meminta uang saat kondisi mabuk, dan terlalu bergantung kepada pemerintah dengan selalu meminta bantuan, kaum terpelajar hanya saling menjatuhkan, lebih mementingkan kepentingan pribadi dan kelompok. Selanjutnya, belum dibekali dengan kualitas mental yang baik. Nilai sosial budaya kita di ambang kepunahan”. 
Norma, adat, istiadat, pola aktivitas, pola pikir, kebiasaan, kepribadian kolektif, hasil karya, kearifan tradisional yang mempengaruhi orang Papua dan pola interaksinya semakin hancur, pencapaian zaman hidup rukun dan damai di antara sesama orang Papua menghilang. Pola hidup sosial harus tetap dijaga, jangan kita terlena dengan perkembangan zaman, karena kita dapat tergiring dan lenyap begitu saja. Orang Papua harus memiliki sifat adaptif terhadap lingkungan, sesama orang Papua dan dengan non pribumi. Hidup berdampingan itu indah. Saling mendukung, saling mendoakan, menjaga apa yang Tuhan taruh di atas tanah Papua yang tercinta itu sangat penting.

OAP: Bahasa dan seni Bepikir adalah Jalan Kebebasan: 
Bahasa adalah alat bantu berpikir, sarana mutlat untuk berpikir ilmiah dan berfilsafat. Bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi, eksplorasi dan koseptualisasi pengetahuan. Sementara berpikir adalah proses kognitif untuk memahami menimbang, mengalisis, menelaah pada semua objek pengetahun dan persoalan dalam hidup. Segala sesuatu dapat yang ada baik kelihatan pada dunia fisik dan hal-hal yang bersifat eksatologis dapat ditata hanya melalui proses berpikir dan bahasa. 

Orang asli Papua mempunyai bahasa daerah sebagai sarana mutlak untuk mengunggapkan semua kebenaran dan keberadaan, pengetahun dan kebijaksanaan aslinya dan mempunyai seni berpikir sendiri untuk memahami, menimbang, mengalisis dan menelaah tentang kebenaran dan kebijaksanaan hidup, esensi, subtansi dan eksistensi mereka sendiri. Seni berpikir berakar kuat pada relasi harmoni dan keselarasan hidup yang menyatu dan mendalam antara manusia, alam budaya dan pencipta. Maka kami mengingatkan, bahwa orang asli Papua harus melestarikan bahasa daerah agar kita dapat memperjuangkan kebenaran sejati yang ada dalam budaya kita. Hanya dengan bahasa daerah kita dapat mengunggapakan kebenaran essensial, subtansi dan eksistensi diri kita, rahasia, simbol, mitos, mite, dongen dan sejarah kita dengan baik dan benar. Di dalam upaya-upaya memperjuangkan nasib hidup, kita mesti menjujung tinggi gaya berpikir kita sendiri agar dapat merumuskan menemukan, mengkaji, dan membentuk model hidup yang baik, mengambil keputusan yang benar, berkebijakan bijak sesuai keberlangungan masyarakat pribumi.

Orang pribumi di Papua mempunyai bahasa daerah sekitar 244 bahasa. Namun sedang menuju kepunahan karena penutur sangat terbatas. Anak muda merasa minder menggunakan bahasa daerahnya. Kadang anak anak Papua bangga ketika meniru dialek malayu jawa dan bahasa daerah suku bangsa lain. Mereka merasa sangat cocok pada zaman modern, padahal pada saat yang sama mereka sedang kehilangan jati diri sebagai orang Papua. Hal mendesak bagi kita untuk memelihara bahasa dan seni berpikir adalah membiasakan komunikasi atau dialog di dalam setiap rumah tangga, jika pasangannya dari suku yang berbeda ajarkan anak-anak sejak usia dini kedua bahasa daerahnya. Pemerintah juga mempunyai tanggung jawab untuk membuat kurukulim bahasa daerah dan pendidikan melanesia (filsafat melanesia) untuk mengembangkan seni berpikir dan ilmu lingistik melanesia serta memberikan ruang besar bagi ilmu pengetahun dan kebijaksanaan melanesia di Papua. 

Tanggung jawab kita bersama yaitu setiap kita menjadi penutur bahasa daerah, harus mendukung peran orang tua untuk selalu menggunakan bahasa daerah di dalam rumah atau lingkungan keluarga dan di antara sesama sukunya. Kadang kita malu dan menjaga citra bahwa menggunakan bahasa daerah adalah orang yang kuno dan ketinggalan zaman, padahal justru orang yang berpikir demikianlah yang perlu dipertanyakan, bahwa ia belum memahami pentingnya bahasa ibu. 

Bahasa dan seni berpikir merupakan kebudayaan pertama yang dimiki oleh manusia. Itu artinya, setiap orang harus tahu bahasa daerahnya dan itu membantu dalam berpikir tentang dirinya, bangsanya, budaya, kebijaksanaan dan masa depan bangsanya. Sekitar kita, jika tidak lagi menggunakan bahasa daerah, itu tanda-tanda sesang kehilangan bahasanya. Pertanyaannya, jika kita tidak tahu bahasa daerah, bagaimana kita menjelaskan dan memperjungkan semua nilai hidup yang ada dalam budaya kita sendiri?
Papua memiliki wisata alam yang membuat banyak orang dari penjuru dunia datang ke Papua. Namun beberapa hal yang pasti Papua bukan hanya mengenai keindahan serta kekayaan alamnya. Ia yang di huni berbagai suku-suku ini yang diwarnai dengan konflik serta perjuangan yang sangat rumit. Meski orang orang eropa mengenal Papua sebagai pulau emas karena kekayaan alamnya. “Ironisnya karena kekayaan alam ini justru membuat rakyat Papua sengsara dan hidup di bawah penjajahan selama ratusan tahun bahkan sebagian orang Papua mengatakan hingga kini, inilah kisah perjuangan panjang rakyat Papua dari masa ke masa yang hidup di bawah cengkeraman penjajahan yang bahkan berimbas hingga kini”. Orang asli Papua belum terlambat, saatnya anak muda asli Papua, bersekutu menyatukan barisan, membangun kebersamaan dan kebersatuan untuk bersekutu kesadaran akan pentingnya budaya, Bahasa dan metode berpikir kita sendiri, agar kita membangun pembangunan kokoh. Manusia yang berkualitas secara intelek tual, kaya akan budaya dan bahasa, meletakan kebijaksanaan hidup dan menyelamatkan manusia, alam dan budaya. Dengan demikian kita pasti menembalikan relasasi harmoni dan keselarasan hidup di antara sesama manusia, leluhur, alam dan Bersama Pencipta. Itulah satu-satunya jalan fundamental dan mendesak orang asli Papua membebaskan diri dari penjajhan, ketertinggalan, ketertinggalam, kemisikinan dan kembali pada hidup damai dan Bahagia di tanah leluhur Papua tercinta.(*)


))“Penulis adalah Mahasiswa Umiversitas Cenderawasih (Uncen), Jayapura-Papua.”
 

 

Post a Comment

Silakan DM atau Kunjungi di akun website.

Lebih baru Lebih lama