171 Tahun Injil Masuk Tanah Papua, PMKRI Jayapura: Gereja Harus Bersikap untuk Kemanusiaan

PMKRI Jayapura, Mengusut dan Menyampaikan dalam moment. 171 Tahun Injil Masuk Tanah Papua, PMKRI Jayapura: Gereja Harus Bersikap untuk Kemanusiaan. (Doc: Pribadi) 

Jayapura, Wenehanowene.com - Setiap tanggal 5 Februari, Tanah Papua berhenti sejenak untuk mengenang peristiwa bersejarah yang mengubah arah perjalanan hidup masyarakatnya. Dari sebuah pulau kecil bernama Mansinam di Teluk Doreh, Manokwari, Injil pertama kali diberitakan dan kemudian bertumbuh bersama denyut kehidupan orang Papua.

Peristiwa itu terjadi pada 5 Februari 1855, ketika dua misionaris asal Jerman, Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler, menginjakkan kaki di Pulau Mansinam. Mereka datang bukan dengan senjata, melainkan membawa Alkitab, iman, serta keberanian untuk hidup bersama masyarakat Papua.

Bagi orang Papua, Injil tidak sekadar ajaran iman, melainkan menjadi awal perubahan cara hidup, cara berpikir, dan cara memandang masa depan. Injil hadir dalam kesederhanaan, lalu perlahan menyusuri hutan lebat, menembus pegunungan tinggi, hingga menjangkau kampung-kampung pesisir.

Momentum peringatan 171 tahun Injil masuk Tanah Papua ini mendapat perhatian dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Jayapura Santo Efrem.

Ketua Presidium PMKRI Cabang Jayapura, Jasman Yaleget, Kepada Wartawan Wenehanowene.com pada, Kamis (5/2/2026), menyampaikan refleksi kritis atas perjalanan panjang Injil di Tanah Papua.

“Hari ini, 5 Februari 2026, kita memperingati 171 tahun Injil pertama kali masuk ke Tanah Papua. Injil datang pada 1855, jauh sebelum Papua dianeksasi ke dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 1961,” ujar Jasman.

Menurutnya, Injil telah hadir hampir dua abad di Tanah Papua. Namun, nilai-nilai Injil dinilai belum sepenuhnya terimplementasi dalam kehidupan kemanusiaan orang Papua.

“Yang menjadi sorotan kami adalah Injil itu belum sungguh-sungguh terwujud dalam diri manusia Papua. Pelanggaran HAM terus terjadi hampir 64 tahun, kondisi kesehatan masyarakat masih memprihatinkan, kemiskinan meningkat, dan angka stunting di Tanah Papua juga terus bertambah,” tegasnya.

Jasman menekankan bahwa peringatan Injil masuk Tanah Papua tidak boleh berhenti pada seremoni dan ritual keagamaan semata, tetapi harus diiringi keberpihakan nyata terhadap martabat manusia Papua.

“Dalam momen ini, kita tidak hanya berbicara soal Injil, tetapi harus berbicara soal manusia Papua. Kemanusiaan harus menjadi pusat perhatian,” katanya.

Ia juga menyerukan kepada seluruh elemen gereja, baik gereja Katolik maupun denominasi lainnya, agar berani menyuarakan suara kenabian demi kemanusiaan di Tanah Papua.

“Kami meminta para pendeta dan pastor untuk mengeluarkan suara-suara kenabian, menyuarakan kebenaran dan keadilan secara terbuka, baik di mimbar gereja maupun dalam kehidupan umat,” ujarnya.

Menurut Jasman, pembunuhan, kekerasan, dan pelanggaran HAM yang terus terjadi menjadi ukuran sejauh mana Injil benar-benar dihidupi di Tanah Papua.

“Gereja wajib menyuarakan hal ini. Peringatan Injil masuk jangan hanya menjadi simbol, tetapi harus bermakna dan membawa perubahan nyata bagi orang Papua,” tambahnya.

Di akhir pernyataannya, Jasman mengajak seluruh elemen masyarakat Papua untuk tetap menjaga perdamaian.

“Kemanusiaan adalah hal yang utama. Kami mengajak semua pihak untuk terus menjaga perdamaian di atas Tanah Papua,” tutupnya.

Ia pun menyampaikan ucapan selamat memperingati 171 tahun Injil masuk Tanah Papua, seraya berharap nilai kasih, keadilan, dan kemanusiaan benar-benar hidup dan dirasakan oleh seluruh masyarakat Papua.


Reporter: Admin

Post a Comment

Silakan DM atau Kunjungi di akun website.

Lebih baru Lebih lama