MENDIDIK SAMBIL MENGINJAK.

Pemandangan kota wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pengunungan. Dalam gambar yang penuh tulisan kacil yang bermakna. Penanggulangan Anak Korban Aibon.  (Doc: Istimewa Kota Wamena)

Penanggulangan Anak Korban Aibon 

Oleh:Yasman Yaleget 

Jayapura, Wenehanowene.com - Semenjak di dirikannya Kabupaten Jayawijaya pada 10 Desember 1956-10 Desember 2025  pada usia 69 tahun, sudah memasuki setengah abad ini tentu usia yang sudah tidak mudah lagi.

Kabupaten Jayawijaya yang beribukotakan Wamena ini dulunya di juluki sebagai kota DANI (Damai, Aman, Nyaman Dan Indah). Damai berarti kehidupan manusianya penuh dengan kedamaian dan ketentraman yang  baik.

Aman berarti setiap aktivitas kehidupan yang di lakukan  oleh setiap orang di kota ini dengan rasa aman dan penuh dengan hal gembira tanpa adanya  keresahan dalam diri maupun di sekitarnya.

Nyaman berarti dalam melakukan setiap aktivitis kehidupan masyakarat di kota ini melakukannya dengan penuh rasa yang nyaman, rasa yang tenang, tanpa adanya intimidasi, pemalangan, perampokan dan lain sebagainya.

Indah berarti negeri ini di karunikan Tuhan Kepada orang Wamenavuntuk di rawat dengan baik karena negeri ini memiliki berbagai potensi Alam, potensi kearifan lokal, potensi wisata, nilai-nilai budaya yang masih terus ada dan di lestarikan (Bukan Dalam Konteks Perang-Perangan)  semenjak dahulu sampai saat ini yang kemudian indah di mata manusia Wamena maupun setiap tamu luar yang datang berkunjung di kota ini.

Seiring berjalannya waktu dari zaman kw zaman dan  pemerintahan ke pemerintahan tentunya mengalami perubahan yang cukup signifikan, baik secara Budaya, Kearifan Lokal, Bahasa, Alam,  Tatanan Kehidupan Sosial, sampai dengan pada perubahan moderenisasi (Era Global), misalnya Media Sosial, Transportasi, Infrastruktur dan perubahan lainnya.

Setelah kita mengikuti semua perjalanan setiap pemimpin pemerintahan sebelumnya hingga pada 5 tahun terakhir ini, Kabupaten Jayawiya sudah tidak bisa lagi di katakan sebagai kota DANI, yang dulunya di rasa bahwa penuh ke damaian sekarang penuh dengan kegaduhan, keresahan, kekhawatiran, yang dulunya penuh dengan ke amanan, sekarang penuh dengan kekerasan, pencurian, pemerkosaan, perampokan, pemalangan, pembacokan, perampasan, peperangan.

Dulunya penuh dengan kenyamanan, ketenraman, bebas dalam beraktivitas. Namun, sekarang penuh dengan kecurigaan, saling tuduh-menuduh, saling gunting mengunting, kekacauan dimana-mana.

Dulunya indah di lihat dan di nikmati pesona Alam dan Udaranya, sekarang penuh dengan penjualan Tanah, pengadaian Tanah, Konpensasi Tanah, Polusi Beras Padi, dan penuh dengan Perampasan Lahan (Tanah Masyarakat Adat "Wakunmo/Wakunoakma") banyak yang di keruk dan di rusak.

Meskipun saat ini suasana dan kondisi seperti itu mulai 5 tahun terakhir hingga detik ini,  keuletan dan kegigihan anak daerah selalu ada dan terus meningkat untuk meraih kesuksesan melalui pendidikan dan keterampilan. Hal yang menjadi pemicu utama anak daerah untuk menggenyam pendidikan lebih tinggi itu sungguh amat luar biasa, yaitu mayoritas manusianya hampir semua bertani/berkebun.

Anak daerah sudah dan sungguh amat menyadari bahwa majunya suatu daerah ialah dengan cara meningkatkan mutu Sumber Daya Manusia, membuka lapangan pekerjaan dan memberikan 
keleluasan untuk mengekspresikan potensi dan skill yang di miliki oleh mereka sebagai anak asli daerah itu  sendiri.

Hal inilah yang membuat terjadinya gesekan antar anak asli itu sendiri yang berakibatkan pada kebijakam pemerintah secara sepihak untuk mendidik tetapi juga di sisi lain menginjak sumber daya manusia lainya di Kabupaten Jayawijaya.

KEJANGGALAN DARI SATU PEMERINTAHAN KE PEMERINTAHAN LAINYA 

Secara pribadi sangat bangga dan berterimakasih atas inisiatif dan  kebijakan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, dalam memberikan pendidikan moral, kepada anak-anak asli daerah yang selama ini tidak bersekolah dan  kehidupannya di emperan tokoh yang beralaskan karton  pinggiran jalan, pasar-pasar, rumah tak berhuni, kondektur, (Sering di Sebut Oleh Pemerintah Dengan Sebutan Anak Jalanan) dan lain sebagainya.

Perlu di ketahui bahwa secara konsitusinal dalam amanat Otsus (Otonomi Khusus) UU Nomor 1 tahun 2001 maupun perubahan UU Otsus 2 Tahun 2021, Otonomi yang artinya sendiri, memiliki kekhusussan, keiztimewaan, itu lebih mendominankan pada 3 aspek utama yaitu Aspek Pendidikan, Aspek kesehatan, dan Aspek Infrastruktur.

Maka jika pemerintah Kabupaten Jayawijaya merekrut dan menyekolahkan anak-anak daerah seperti ini,  dalam (Aspek Pendidikan) sudah menjadi satu kepatutan/keharusan, kewajiban yang harus di lakukan oleh setiap pemerintah dalam menjalankan amanat Otsus itu sendiri, maka tidak perlu lagi mengadangkan seola-ola hal ini  sebagai bagian dari program utama 100 hari kerja usai pelantikan di laksanakan.

Setelah saya menonton dalam sebuah YouTobe yang berdurasikan 18 menit 38 detik dalam salah gruop pemuda jayawijaya, saya secara pribadi merasa senang, bangga, berterimakasih, kepada pemerintah daerah Kabupaten Jayawijaya,  karena Pemerintah secara inisiatif dengan mendalilkan (Seola-ola, dan seakan-akan) menggunakan anggaran pribadi dalam menyukseskan  100 hari kerja dengan mengirimkan anak daerah untuk mengikuti berbagai pendidikan di setiap jenjang  yang ada di luar Papua.

Tetapi di sisi lain kejanggalan  yang membuat saya merasa sedih, kecewa dan juga miris sekali kepada kepada Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, karena pemerintah sendiri sebagai anak daerah  sendiri tidak mengandalkan Sumber Daya Manusia (SDM Orang Wamena) sendiri yang ada daerah dengan berbagai kemampuan dalam berbagai bidang, baik dari segi keguruan, perbengkelan, pertukangan, marketing, pengoperasian komputer dan lain sebagainya, akan tetapi pemerintah lebih mengandalkan tenaga pendidik luar.

Padahal jika kita memahami lebih dalam dari  kontekstual kehidupan orang Papua pada umumnya, dan orang Wamena pada khususnya, mereka akan lebih cepat memahami jika di ajarkan dengan mengkontekstualkan kehidupan budaya mereka dengan cara, gaya dan juga kebiasaan mereka sendiri secara holistik dengan perlahan-lahan.

RESOLUSI
  • Untuk kembali menata soal kedamaian keamanan, kenyamanan, dan pesona keindahan Kabupaten Jayawijaya seperti dahulu, maka pemerintah perlu melakukan Rekonsiliasi secara menyeluruh (Totalitas) atas kesahalan-kesalahan masa lampau, dengan melibatkan semua unsur baik dari Para Kepala Suku, Toko Agama, Toko Pemuda, Toko Wanita, Toko Anak-anak, Para Perintis/Anak-anak perintis, dan semua unsur lainya. Kemudian lakukan Rekonsiliasi secara "Budaya/Adat" dan bukan secara "Agama", maka apa yang kita harapkan dapat tercapai secara perlahan dengan baik.
  • Membuka lapangan pekerjaan bagi Orang Asli Papua (Orang Wamena) dan mempekerjakan sebagai tuan diatas Tanahnya sendiri.
  • Untuk mendidik karakter dan pendidikan moral anak, perlu di masukan kedalam setiap Pantiasuhan yang di kelola oleh orang asli Papua sendiri di Tanah Papua ini, agar di berikan pendidikan dan pengajaran moral, sosial dan etika serta katakter yang baik.
  • Dalam meningkatkan kemampuan dan skill dalam dunia otomotif, pertukangan, penggunaan komputer (Pelatihan ITE), mebel kayu dan besi, marketing, tukang jahit kepada anak asli Papua (Orang Hubula), maka bangun fasilitas di Kabupaten setempat lalu gunakan jasa Orang Asli yang sudah mahir dalam berbagai bidang ini, bila tidak ada maka  (Datangkan tenaga pendidiknya yang di kompeten).
  • Berikan tugas kepada dinas (Dinas Sosial) terkait untuk menanggulangi  meningkanya populasi anak jalanan saat ini, agar tidak menciptakan suasana yang lebih parah lagi.

PERTANYAAN REFLEKTIF
  • Jika perampasan, pengerukan, pencaplokan, konpensasi Lahan (Tanah) di wamena ini terus terjadi maka bagaimana dengan Slogan DANI di masa lalu?
  • Bagaimana dengan nasib SDM Wamena yang berkompeten dari berbagai bidang yang ada tetapi jika tidak di  adalkan oleh pemerintah setempat kemudian datangkan orang tenaga non-orang asli Wamena?
  • Bagaimana dengan nasib anak-anak jalanan yang tidak/belum mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan baik secara formal maupun nom formal apakah akan bertambah atau berkurang?.(*)

))“Penulis adalah, Pemuda Milenial Kabupaten Jayawijaya.”

Reporter: Admin 

Post a Comment

Silakan DM atau Kunjungi di akun website.

Lebih baru Lebih lama