Pemuda desa sedang merantau berpendidikan, dibulan Desember merenungkan sampari silam kini waktu. (Gambar Ilustrasi I)
“Pemulung Kata: Renungan dan Rentetan Malam Desember.”
Telah sekian lama berlalu kini memasuki dibulan Desember, dibulan ini merupakan hari yang spesial umat kristiani seluruh dunia, dimana pada tepat—nya hari kelahiran sang juruselamat. Setiap umat kristiani mempersiapkan diri untuk menyambut sang Imanuel yang telah hadir ditengah-tengah umat manusia di dunia.
Kelak berjalan waktu—nya terus berjalan memasuki ditanggal kelahiran sang yuru selamat, kini ada yang merayakan natal bersama keluarga, ada juga yang merayakan natal dirantu tanpa merayakan bersama keluarga. Dengan suasana yang penuh makna membawa keharmonisan mempersiapkan diri, hati bersiaplah untuk menyambut sang imanuel.
Dibulan yang sama ini menjadi sebuah pertanyaan besar bagi dirinya sendiri dan andaikan aku merenungkan kembali dalam hati dan batinku jikalau bulan yang penuh makna ini seharusnya aku berbuat apa dan bagaimana. Aku harus buat sesuatu yang penuh makna demi orang lain dan buat baginya, hanyalah ilusi kata.
Kini sekian lama waktu terus berjalan disekelilingnya rumah-rumahnya mewarnai dengan pondok natal, lampuh natal, disambut dengan lagu natal, dirayakan dengan segala bentuk barang merah—meriah. Ada rasanya Meraka yang di hutan belantara kini silam, Pemuda desa ini renung dalam hati hanyalah hayalan manusiawi yang memikirkan lebar panjang tetapi tidak akan terjadi apa yang diinginkan melainkan semua mustahil bagi Allah.
Pemuda desa yang sedang merantau berpendidikan di kota studinya, Ia duduk merenung dan mencoba untuk berpikir apakah dibulan Desember yang penuh makna membawa kedamaian yang benar-benar ataukah hanyalah untuk menyambut hari sang raya spesial ini dengan begitu biasa dibalik dari kekacauan duniawi, Adahkan rasa damai yang benar-benar terjadi, hanya renung dalam diam dan tenang.
Suarah hati berbisik, ada rasanya untuk merayakan Natal dengan bersama keluarga yang telah sekian lama ia tinggalkan di kampung halamannya, tetapi hanya situasi duniawi tidak bersahabat untuk apapun yang menjadi pertanyaan suarah hatinya, Hanyalah sebuah hayalan yang muncul sesaat ketika sampari duduk di tengah kesunyian.
Biarlah semua berlalu, kini menjadi kenang dan menyimpan dengan tenang di balik dari kata kedamaian abadi ditengah-tengah dunia penuh kekacauan. Andaikan untuk ada rasanya merayakan natal bersama keluarga tetapi semua terbatas oleh nyatanya duniawi, memainkan oleh aurah dan hanya bertahun untuk rasa apa yang dirasakannya. Duniaku mempertanyakan besar kepada—nya apakah kamu siap.
Hanyalah ungkapan rasa dan kata hati, semoga keluarga sehat-sehat disana merayakan Sang Damai Natal dengan penuh sukacita bersama orang-orang tercinta.
“Selamat malam kudus, dari ujung lubuk hati sedalam-dalamnya menyembah berhala dari hiruk-pikuk semoga kita senantiasa dapat dibimbing, diampuni dari segala dosa atas perbuatan, perkataan sengaya bahkan tidak sengaya. Dengan pengampunan yang maha penyayang, Tuhan Yesus senantiasi menyertai sekalian.”
Selamat Hari Raya Natal 25 Desember dan Menyambut Tahun Baru 01 Januari 2026.(*)
Bersambung.....
Kota Raya, 24 Desember 2025
Reporter: Admin