Suara Lantang dari Podium Universitas Cenderawasih. (Gambar ilustrasi: Editor Wenehanowene.com)
Puisi: Cinta Habis di Revolusi
Oleh: Eben Nardel
Di sudut kota holandia, Cendrawasih berdanca. Di atas podium Auditorium Uncen, Pria itu Sebut saja. Namanya Kamus Bayage, Sosok Pria yang tidak asing terkenal di kalangan Mahasiswa Universitas Cenderawasih.
Suara Lantang bergema, penonton bergemuruh kata-katanya sangat menantang dengan realitas situasi Kehidupan Masyarakat Papua.
Kata-demi kata begitu tersusun rapi,
Kalimat demi kalimat di ucapkan dengan semangat, bagaikan api berkobar di tengah kayu kering yang melahap.
Setiap ucapannya menginspirasi anak-anak mudah. Bangkitkan jiwa yang tidur, Melawan Ketidak—Adilan meraya lela di depan mata.
Satu ucapan kalimat yang sangat populer adalah "Belajar bersama—Bergerak bersama" Merupakan akar dari pergerakan mahasiswa sebagai agen pengerak
Untuk mengakomodir beragam aspirasi Kepentingan Rakyat Papua.
Dirinya sosok yang dikagumi oleh kalangan Mahasiswa Universitas Cenderawasih, Sebagai pria tangguh mengangkat suara mahasiswa yang dibunggamkan oleh Akademisi.
Seringkali juga di sebut sebagai Aktivis Mahasiswa yang selalu membangkitkan semangat generasi untuk jangan tunduk pada aturan yang justru merugikan Masyarakat Papua.
Jejak perjuangan panjang yang ditempuhnya. Kamus bayage dikenal Masyarakat luas, Menjadi benteng pertahanan. Dan sosok inspiratif bagi Generasi Mudah Papua.
Sampai saat ini pria itu berdiri kokoh sebagai Sosok inspirator dan Aktivis kampus
bagi generasi mudah.
Membagikan pengalaman dan pelajaran berharga kepada semua mahasiswa, untuk terus lawan sampai ketidak Adilan itu di tuntas.
Closing Tax
Akademisi Milik Mahasiswa, Tapi Kamu Milik Rakyat Papua.
Suatu kelak saya akan membaca
Biografi mu dalam buku yang berjudul:
“Cinta Habis di Revolusi” Dengan kata romantis namun penuh inspirasi dan emosi ekspresi dari perjuangan panjang yang selami ini anda tempuh.
Dari Tanah Amume Kamoro.
Untuk Kakanda, Kamus Bayage di Holandia.
Reporter: Admin